Bersaudara dalam Kemanusiaan, Pelajaran Penting dari Tokoh Pendidikan Islam di Indonesia Timur* - CONEXNEWS.ID

Breaking

Definition List

Minggu, 27 Maret 2022

Bersaudara dalam Kemanusiaan, Pelajaran Penting dari Tokoh Pendidikan Islam di Indonesia Timur*



 

 

Jakarta Conexnews.id - 27 Maret 2022 Ketua Umum Pengurus Besar (PB) Alkhairaat, Ali Muhammad Aljufri, mengingatkan ajaran penting Al-Quran tentang bersaudara dalam kemanusiaan untuk membangun hubungan lintas agama. Prinsip itulah yang menjadi pegangan tokoh pendidikan Islam di Indonesia Timur, yaitu pendiri Alkhairaat, Idrus Bin Salim Aljufri (Guru Tua), dalam membesarkan lembaga pendidikan Alkhairaat.

“Rasul berkata, mengeluh kepada Allah. Wahai Allah, wahai Tuhanku, umatku telah meninggalkan Al-Quran, itu hanya menjadi pajangan. Padahal kalau kita baca dalam Al-Quran, ada mengatakan, kita bersaudara secara kemanusiaan,” kata Habib Ali dalam acara sosialisasi untuk pelaksanaan program internasional Literasi Keagamaan Lintas Budaya (LKLB) yang akan diadakan bersama Institut Leimena, di Aula Fakultas Agama Universitas Alkhairaat, Palu, Sulawesi Tengah, Sabtu (26/3/2022).

Dalam acara itu dilakukan juga penandatanganan nota kesepahaman antara PB Alkhairaat dan Institut Leimena tentang Pengembangan Pemahaman dan Penerapan LKLB, serta penandatanganan perjanjian kerja sama antara Universitas Alkhairaat dan Institut Leimena tentang Pelaksanaan Pengembangan Pemahaman dan Penerapan LKLB.

Habib Ali mengatakan semua manusia pada dasarnya diciptakan dari satu jiwa yaitu Nabi Adam, sehingga kebaikan kepada sesama manusia harus bersifat universal. Dia mengisahkan teladan dari Guru Tua, Idrus Bin Salim Aljufri, dalam menerapkan nilai-nilai persaudaraan kemanusiaan, yaitu ketika awal pendirian sekolah Alkhairaat tidak memiliki guru Matematika, kemudian seorang pendeta menyatakan kesediaannya untuk menjadi pengajar di sana.

“Kata Guru Tua, pergi tanyakan ke dia (pendeta), mau tidak mengajar? Itu ditanyakan, boleh tidak saya mengajar di Alkhairaat? Mengajar adalah suatu kebaikan, maka Alkhairaat menerima kebaikan itu,” ujar Habib Ali, yang merupakan cucu Guru Tua atau Habib Idrus.

Menurut Habib Ali, bersaudara dalam kemanusiaan tidak bisa hanya menjadi teori, namun harus dipraktikkan secara nyata. Dia mencontohkan pendirian posko bantuan untuk korban gempa oleh Alkhairaat melibatkan berbagai pihak termasuk warga dari Nabire, Papua, karena semua memiliki tujuan sama untuk kemanusiaan.

“Waktu gempa (Palu), ada posko menulis ‘bantuan kemanusiaan kecuali kepada..’ Saya tidak bilang kecualinya siapa, tapi bagaimana bisa kemanusiaan ada kecualinya? Heran juga saya. Padahal yang namanya manusia ya manusia,” tandasnya.

Habib Ali menambahkan praktik LKLB sebenarnya sudah mengalir dalam Islam Nusantara dimana umat Islam di Indonesia menghargai perbedaan satu sama lain. Namun, praktik Islam Nusantara menjadi tergerus ketika hanya disampaikan sebagai narasi belaka.

“Kami berterima kasih kepada Institut Leimena, sebenarnya kalau mau dipelajari sudah ada semua, tapi kadang-kadang orang itu lupa,” ujarnya.

*Terbesar di Indonesia Timur*

Mendiang Idrus Bin Salim Aljufri telah dikenal sebagai tokoh pendidikan Islam di Indonesia Timur, khususnya Sulawesi Tengah. Keberhasilan Habib Idrus membangun Alkhairaat sebagai lembaga pendidikan Islam terbesar di Indonesia Timur membuahkan hasil yaitu kini ada sekitar 1.600 madrasah/sekolah dan 34 pondok pesantren di kawasan timur Indonesia. PB Alkhairaat juga memiliki Universitas Alkhairaat (Unisa) dengan 7 fakultas serta Rumah Sakit Islam S.I.S Aljufri.

Program internasional LKLB menjadi kerja sama pertama antara PB Alkhairaat dan Institut Leimena. Pada tahap awal, pelatihan LKLB akan digelar 23-27 Mei 2022 secara daring dengan target setiap angkatan sebanyak 500 guru madrasah dan dosen di lingkungan Alkhairaat dari total peserta yang akan dilatih sekitar 3.000 orang.

Dalam sambutan secara daring, Senior Fellow Institut Leimena, Prof Alwi Shihab, mengatakan pendiri Alkhairaat, Habib Idrus, telah meletakkan dasar yang kokoh untuk menciptakan kerukunan antar umat beragama. Dia mengakui konsep LKLB bukan suatu hal baru, tapi memang bersumber dari Al-Quran dan teladan Nabi Muhammad SAW.

"Inti daripada program LKLB adalah bagaimana umat secara pribadi dapat berinteraksi dengan pihak lain, dengan berpedoman kepada sumber pokok yakni Al-Quran dan keteladan Nabi,” kata Prof. Alwi yang juga mantan menteri luar negeri dan mantan utusan khusus presiden untuk Timur Tengah dan Organisasi Kerja Sama Islam (OKI).

Direktur Eksekutif Institut Leimena, Matius Ho, mengatakan Guru Tua telah memberikan warisan yang sangat visioner yaitu pendidikan karakter atau multikultural, nasionalisme atau cinta tanah air, dan Islam kosmopolitan atau wasatiyah.

Ketiga warisan itu sejalan dengan inti dari program LKLB yang dilandasi tiga kompetensi yaitu kompetensi pribadi artinya bagaimana kita memahami agama masing-masing dengan baik, kompetensi komparatif yaitu bagaimana kita memahami agama yang berbeda dari kacamata penganut agama tersebut, dan kompetensi kolaboratif yaitu bagaimana bekerja sama dengan orang yang berbeda.

“Program LKLB adalah sebuah program yang kami kembangkan bersama sejak tahun lalu. Intinya bagaimana kita semakin memperkuat persaudaraan antara sesama sebagai umat manusia walaupun kita berbeda agama dan kepercayaan. Kita bisa bekerja sama untuk kebaikan dan kemanusiaan tanpa meninggalkan karakteristik kita yang berbeda,” kata Matius.

Rektor Universitas Alkhairaat, Dr. Umar Alatas, mengatakan LKLB sejalan dengan semangat kampus tersebut untuk memperkuat pluralisme. Perbedaan menjadi rahmat untuk semua orang sehingga persoalan kemanusiaan bisa diselesaikan bersama. (IL/Chr)

*Kontak Media*
Natasia Christy (Media Relation Institut Leimena, HP: 0818803430)