Wakil Sekjen DPP MIO Indonesia Asep Ruslan : Khutbah Jum'at, Bulan Safar Adalah Bulan Yang Baik - CONEXNEWS.ID

Breaking

Definition List

Jumat, 10 September 2021

Wakil Sekjen DPP MIO Indonesia Asep Ruslan : Khutbah Jum'at, Bulan Safar Adalah Bulan Yang Baik


 


 


 

 



 

BANDUNG.conexnews.id - Dalam kesempatan khutbah kali ini, kami sampaikan naskah Khutbah Jum'at bertema: “Bulan Safar Adalah Bulan Yang Baik” oleh H. Asep Ruslan MS, S.Hut atau Kang Asep, Wakil Sekjen DPP MIO Indonesia Bidang Ekonomi Kreatid dan UMKM dan Pembina Pondok Pesantren Rahmat Lil Alamin (PARLA), H. Asep Ruslan MS, S. Hut, yang disampaikan pada  khutbah Jumat di Masjid Raya Al Hasan Perumahan Bumi Panyileukan Jl. Raya Panyileukan No. 12, Cipadung Kidul, Panyileukan, Kota Bandung, Jumat (10/9/2021).

Pada hari ini Jumat 10 September 2021 Masehi, kita sudah dua hari masuk di bulan Shafar, tepatnya Jumat 2 Shafar 1443 Hijriah. Bulan Shafar adalah bulan baik dan mulia, sebagaimana sebelas bulan lainnya yang telah ditetapkan Allah SWT dalam hitungan satu tahun.

Kebaikan bulan Shafar menurut Dr. Taisir Rajab Al Tamimi terletak pada eksistensi bulan tersebut sebagai bulan Allah yang diperbolahkan bagi manusia untuk melakukan perbuatan apa saja dengan catatan kebaikan dan takwa.

Pada zaman jahiliah, berkembang anggapan bahwa bulan Safar adalah bulan sial atau dikenal dengan istilah tasyâ-um. Bulan yang tidak memiliki kehendak apa-apa ini diyakini mengandung keburukan-keburukan sehingga ada ketakutan bagi mereka untuk melakukan hal-hal tertentu.

Pikiran semacam ini juga masih menjalar di zaman sekarang. Sebagian orang menganggap bahwa hari-hari tertentu membawa hoki alias keberuntungan, sementara hari-hari lainnya mengandung sebaliknya.

Dari Abu Hurairah, Rasulullah ﷺ pernah bersabda: 

"Tidak ada 'adwa, thiyarah, hamah, shafar, dan menjauhlah dari orang yang kena penyakit kusta (lepra) sebagaimana kamu menjauh dari singa." (HR Bukhari dan Muslim)   

'Adwa adalah keyakinan tentang adanya wabah penyakit yang menular dengan sendirinya, tanpa sebuah proses sebelumnya dan tanpa seizin Allah. Thiyarah adalah keyakinan tentang nasib baik dan buruk setelah melihat burung.

Dalam masyarakat jahiliah ada mitos yang mengatakan, bila seorang keluar rumah dan menyaksikan burung terbang di sebelah kanannya, maka tanda nasib mujur bakal datang. Sementara bila melihat burung terbang di sebelah kirinya maka tanda kesialan akan tiba sehingga sebaiknya pulang.   


Sedangkan hamah adalah semacam anggapan bahwa ketika terdapat burung hantu hinggap di atas rumah maka pertanda nasib sial akan tiba kepada pemilik rumah tersebut. Tak beda jauh dengan shafar yang diyakini sebagai waktu khusus yang bisa mendatangkan malapetaka.   

Islam tidak mengenal hari, bulan, atau tahun sial. Sebagaimana seluruh keberadaan di alam raya ini, waktu adalah makhluk Allah. Waktu tidak bisa berdiri sendiri. Ia berada dalam kekuasaan dan kendali penuh Rabb-nya. Setiap umat Islam wajib berkeyakinan bahwa pengaruh baik maupun buruk tidak ada tanpa seizin Allah

Begitu juga dengan bulan Safar. Ia adalah bagian dari dua belas bulan dalam satu tahun hijriah. Safar merupakan bulan kedua dalam kalender Qamariyah, terletak sesudah Muharram dan sebelum bulan Rabiul Awwal.   

Shafar berarti kosong. Dinamakan demikian karena di bulan tersebut masyarakat kala itu berbondong-bondong keluar mengosongkan daerahnya, baik untuk berperang ataupun menjadi musafir.   

Untuk terbebas dari penyakit, manusia diperintahkan untuk hidup bersih dan menghindari pengidap penyakit menular. Agar selamat dari bangkrut, pedagang disarankan untuk membuat perhitungan yang teliti dan hati-hati. Agar lulus ujian, pelajar mesti melewati belajar secara serius. Dan seterusnya.   

Sebagai hamba, manusia didorong untuk berencana, berjuang, dan berdoa; sementara ketentuan hasil dipasrahkan kepada Allah. Dengan demikian, saat menuai hasil, kita tetap bersyukur; dan tatkala mengalami kegagalan, kita tidak lantas putus asa.   

Doa yang bisa dibaca adalah: Bismillahilladzi laa yadhurru ma’asmihi syai-un fil ardhi, wa laa fis samaa’ wa huwas samii’ul ‘aliim. Artinya: “Dengan nama Allah yang bila disebut, segala sesuatu di bumi dan langit tidak akan berbahaya, Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”

Doa ini bisa dibaca sebanyak tiga kali di waktu pagi dan petang. Selain itu, disarankan untuk membaca ayat kursi, Al-Ikhlas 3x, Al-Falaq 3x dan An-Naas 3x, pungkasnya (Red)