Menurut Herwandi inilah Tantangan Pendidikan Karakter Di Era Digital - CONEXNEWS.ID

Breaking

Definition List

Jumat, 12 November 2021

Menurut Herwandi inilah Tantangan Pendidikan Karakter Di Era Digital



 


 

Jakarta Conexnews.id - Opini era digital, Di era digital saat ini, revolusi industri 4.0 telah menawarkan banyak kemudahan dan peluang terbuka khususnya bagi anak muda. Era digital dapat dianggap sebagai perkembangan dari sebuah sistem yang evolusioner dimana arus kemajuan pengetahuan tidak hanya deras, akan tetapi juga semakin di luar kontrol manusia sehingga menciptakan masa dimana hidup semakin rumit dan sulit untuk dikelola.

Melalui situasi yang demikian, potensi munculnya tantangan pun semakin beragam. Memahami era digital akan membantu memastikan bahwa kita telah membangun hubungan sosial yang berkelanjutan, baik dengan ilmu pengetahuan maupun dengan teknologi yang semakin canggih. Era digital mengubah cara hidup dan bekerja kita dengan menciptakan masyarakat berbasis ilmu pengetahuan yang dilengkapi oleh kemajuan teknologi. Seiring berjalannya waktu, era digital akan sangat berdampak pada seluruh bidang kehidupan termasuk pendidikan.

Kemajuan teknologi informasi dan internet memberi tantangan pada pemahaman kita tentang bagaimana pendidikan dikelola dan disampaikan dengan tepat, sehingga menciptakan lingkungan belajar baru dimana siswa yang terisolasi bisa mendapatkan pendidikan yang layak dan dapat terhubung dengan guru dari seluruh dunia.

Berangkat dari tantangan di era digital saat ini, setidaknya dapat menyadarkan kita semua bahwa peran pendidikan tidak hanya sekedar mencerdaskan, namun lebih dari itu pendidikan juga harus berkarakter dengan berbasis nilai-nilai luhur yang utama dan bersifat emansipatoris.

Saat ini, terdapat kekhawatiran tentang perilaku siswa di era digital, dari cyberbullying, sexting, hingga pelanggaran hak cipta. Tantangan kita adalah menemukan cara untuk mengajari siswa bagaimana menavigasi etika dari era digital yang bergerak cepat, secara sadar, proaktif dan reflektif. Selain hal tersebut, beberapa tantangan yang harus dihadapi dalam pendidikan karakter di era digital mencakup keseimbangan, keselamatan dan keamanan, perundungan siber, sexting, hak cipta dan plagiarisme.

Kehadiran teknologi telah membuat metode pendidikan karakter harus mengalami banyak perubahan dan penyesuaian karena dapat memberi dampak besar pada respon dan perilaku siswa terhadap situasi kekinian. Siswa perlu diajari menggunakan teknologi dan internet secara efektif, kreatif, dan bijak. Mereka harus belajar tidak hanya bagaimana menggunakannya, tetapi juga kapan, dan mengapa harus menggunakannya, memastikan keamanan, keadilan, dan rasa tanggung jawab. Sekolah harus bisa memberikan lingkungan yang aman, yang mempromosikan rasa saling menghormati dan menghargai dan bisa memotivasi siswa untuk belajar dan bertindak secara bertanggung jawab baik dalam kumunitas lokal dan online mereka. Pendidikan karakter merupakan tanggung jawab bersama dari rumah, sekolah, dan komunitas siswa.

*Merawat nalar kritis dan nalar logis*

Saya tidak sedang mengatakan bahwa kita tidak perlu mengkhawatirkan berbagai macam hal yang terjadi disekitar kita. Namun, sekolah bukanlah juru selamat yang bertanggung jawab mengatasi segala permasalahan yang terjadi. Harus ada pembagian peran antara sekolah dan keluarga.

Tanggung jawab utama sekolah sebagai lembaga pendidikan adalah tidak hanya mencerdaskan, sekolah juga harus bisa menanamkan daya kritis dan cara berpikir logis sistematis agar para siswa tumbuh menjadi individu dengan kemampuan kognitif yang memadai untuk merespon segala tantangan kehidupan.

Lebih jauh, integritas moral, toleransi, disiplin, kreatif, mandiri, demokratis, bertanggung jawab, semangat kebangsaan dan cinta tanah air dan seterusnya sebetulnya akan tumbuh sebagai buah dari olah nalar kritis dan cara pikir logis sitematis para siswa dalam proses belajar. Dengan mengasah ketajaman nalar dan mengembangkan rasa ingin tahu, para siswa akan lahir menjadi pribadi-pribadi yang nasionalis, disiplin, jujur, dan memiliki integritas tinggi.

Kenapa karakter orang Norwegia, Amerika, Jepang, dan Korea Selatan sangat kuat, dan kedisiplinan mereka sangat tinggi meski disekolah tidak ada kewajiban upacara bendera dan latihan baris berbaris sebagai upaya pembentukan karakter?

Sebaliknya, kenapa karakter kita selalu “mencemaskan” dan disiplin kita payah meski sekian lama ikut melakukan upacara bendera dan latihan baris-berbaris di semua level sekolah? Apakah hanya dengan mengandalkan kurikulum pendidikan kita saat ini dalam upaya pembentukan karakter akan efektif? Saya pikir tidak.

Bukan hanya soal pendidikan karakter, sekolah-sekolah kita secara umum lebih banyak membanjiri kepala para siswa dengan data, bukan membekali mereka dengan paradigma berpikir yang kritis dan anlalitis untuk memahami realitas secara apa adanya. Para siswa digiring untuk menghafal sebanyak mungkin hal-hal teknis yang sering tak relevan dan banyak tidak dibutuhkan dalam kehidupan mereka.

Saya pikir-pikir kembali, sistem pendidikan kita memang tidak cukup efektif untuk menjalankan tanggung jawab utamanya, yakni mengasah nalar kritis dan nalar logis para siswa. Kita terlalu banyak menghabiskan waktu untuk mengurus prosedur dan formalitas, kurang memedulikan esensi dan substansi. Lebih mengenaskan lagi, para guru dan dosen pendidik pun sekarang menghabiskan banyak waktu mereka untuk urusan administratif “borang-borang” yang membingungkan sehingga menguras banyak waktu dan energi. Akhirnya ruang pemikiran mereka amat terbatas untuk mengeksplorasi pertanyaan “apa”, “kenapa”, dan “bagaimana” untuk merawat nalar kritis dan nalar logis dalam proses pembelajaran.

Pada akhirnya saya meyakini, siswa dengan nalar kritis yang mumpuni secara konsisten akan berusaha untuk hidup rasional, wajar, dan memiliki rasa peduli. Dengan kemampuan nalar kritis dan nalar logis mereka, apalagi di era digital yang banjir informasi ini diharapkan para siswa dapat menyadari adanya kecenderungan sesat pikir, seperti terlalu egosentris atau sebaliknya terlalu sosiosentris. Dengan kemampuan nalar kritis dan kemampuan nalar logis tersebut siswa dapat menganalisis, menilai, dan meningkatkan kualitas pemikiran mereka. Sehingga tidak mudah terjebak dalam kesalahan argumentasi, irasionalitas, prasangka, bias, distorsi, dan kepentingan sesaat.

Mengingat banjir informasi merupakan keniscayaan era digital. Saat ini telah tersedia banyak informasi yang berserakan di dunia maya. Realitas yang demikian, di satu sisi membawa kemudahan bagi siswa dalam mencari informasi yang dibutuhkan, disisi lain juga tidak jarang menyebabkan kebingungan bagi sebagian kalangan. Utamanya bagi mereka yang memiliki kemampuan nalar kritis dan nalar logis yang terbatas. Kelompok ini seringkali akan mengalami kesulitan untuk membedakan mana informasi yang benar dan mana informasi yang sampah. Oleh karena itu dalam upaya merespon tantangan pendidikan karakter di era digital, upaya merawat nalar kritis dan nalar logis juga sangat diperlukan untuk dapat memberikan respon dan penyelesaian yang tepat dalam menghadapi berbagai tantangan yang muncul di era digital.

Penulis : Herwandi